Log in / Sign up

Email:*
Password:* Lupa kata kunci?

Pendatang baru di situs ini? Situs kami akan membantu bisnis anda! Buat akun anda untuk mengunakan fitur penuh situs ini.

Register sebagai:

  • Log in / Sign up
  • Tambahkan listing +

Mengenal Tanah Wakaf

10 June 2016, 14:30
Jakarta -Berdasarkan UU No. 41 Tahun 2004, wakaf adalah perbuatan yang dilakukan oleh wakif (si pemberi wakaf) dalam kurun waktu tertentu atau selamanya dengan fungsi yang dimaksudkan si wakif.

Mengenai barang yang ingin diwakafkan, ada aturan yang menyatakan bahwa benda tersebut haruslah barang yang tidak bisa habis, misalnya barang properti (tanah, rumah, dan sebagainya).

Jika merujuk pada tanah wakaf, biasanyanya tanah tersebut diserahkan untuk membangun tempat ibadah atau untuk kepentingan umum lain, dengan periode tertentu sesuai dengan kesepakatan atau bahkan selamanya.

Jika disederhakan lagi, tanah wakaf adalah properti hak milik, baik individu ataupun kelompok yang sudah diwakafkan/diserah terimakan untuk kepentingan umum/sosial. Mengenai hukumnya, perwakafan telah diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) No. 28 tahun 1977 tentang 'Perwakafan Tanah Milik'.

Syarat Memberi Wakaf

Jika memiliki tanah yang ingin dibangun untuk tempat ibadah misalnya, pemberi wakaf atau yang dikenal sebagai wakif haruslah si pemilik nama atas tanah tersebut dengan usia yang sudah dewasa, sehat akal, dan tidak terhalang untuk melakukan tindakan hukum.

Selain itu, mereka yang memberi wakaf juga harus dengan kesadaran penuh dan tanpa paksaan dari siapa pun.

Selain perorangan, tanah milik kelompok seperti badan hukum milik pemerintah serta badan sosial juga bisa mewakafkan tanah miliknya. Aturan mengenai hal tersebut telah tertuang pada Peraturan Menteri (Permen) Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional No 9 tahun 1999 tentang 'Tata Cara Pemberian dan Pembatalan Hak atas Tanah Negara dan Hak Pengelolaan'.

Tanah wakaf kemudian diberikan kepada Nadzir, atau pihak yang akan mengurus dan mengelola tanah wakaf. Sama seperti wakif, nadzir juga boleh ditunjuk perorangan ataupun kelompok, asalkan; WNI, Islam, sudah dewasa, sehat jasmani dan rohani, serta bertempat di lokasi di mana tanah wakaf tersebut berada.

Bisakah Tanah Wakaf Diperjualbelikan?

Berdasarkan UU Nomor 41 tahun 2004, tanah wakaf tidak boleh diperjualbelikan. Peralihan status dari hak atas tanah primer menjadi wakaf membuat tanah tersebut tidak lagi memiliki nilai ekonomis, kecuali jika digunakan untuk kepentingan umum sesuai dengan Rencana Umum Tata Ruang yang diatur dalam Undang Undang Negara dan tak bertentangan dengan syariah.

Tanah wakaf bisa saja dijual atau dibeli, asalkan mendapat izin tertulis dari Menteri atas persetujuan Badan Wakaf Indonesia. Hanya saja, harta benda wakaf yang diubah status tersebut wajib ditukar dengan harta benda lain dengan manfaat dan nilai tukar yang sama.

Selain tak boleh diperjual belikan, harta benda yang diwakafkan juga dilarang untuk:
- Dijadikan jaminan
- Disita
- Dihibahkan
- Diwariskan
- Ditukar
- Dialihkan dalam bentuk pengalihan hak lainnya

(sumber: Rumahku.com)

(ang/ang)




Sumber: Berita Properti - Investasi & Daftar Apartemen Baru | Propertidata.com